PUSKESMAS SUKORAME - Kategori Informasi | Puskesmas Sukorame Kabupaten Lamongan

PEDOMAN TEKNIS KEPITING SUKORAME

 PEDOMAN TEKNIS KEPITING SUKORAME BAB 1 PENDAHULUAN       1.1.  Latar Belakang Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang disebabkan kekurangan gizi kronis terutama pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama dan infeksi penyakit yang terjadi secara berulang. Selain itu, kondisi gagal tumbuh juga dipengaruhi oleh pola asuh yang kurang tepat selama masa periode emas perkembangan balita yakni pada usia kurang dari lima tahun. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2018) terdapat 30,8% anak Indonesia mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa stunting merupakan masalah kesehatan yang harus segera ditangani karena prevalensi stunting di Indonesia masih diatas rekomendasi cut off yang ditentukan oleh WHO yakni <20%. Sedangkan, prevalensi stunting di Kecamatan Sukorame berdasarkan hasil bulan timbang Agustus 2019 sebesar 10,4%. Hasil ini mengalami penurunan jika dibandingkan data bulan timbang Februari 2019 sebesar 14,6%. Penurunan stunting harus dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yakni menurunnya kualitas sumber daya manusia yang dapat merugikan perekonomian negara karena stunting dan masalah gizi lainnya berkontribusi pada hilangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya. Dalam upaya penurunan stunting diperlukan kerjasama lintas sektor mengingat penyebab masalah gizi termasuk stunting adalah multifaktoral yang tidak dapat diselesaikan hanya dari sisi kesehatan saja. Oleh karena itu, pemerintah membuat program 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) dalam rangka menurunkan stunting. Program 1000 HPK ini terdiri dari intervensi gizi sensitif dan intervensi gizi spesifik yang melibatkan berbagai lintas sektor dan pemerintah serta dukungan komitmen politik dan kebijakan. Intervensi gizi sensitif adalah intervensi yang dilakukan untuk mengatasi penyebab langsung dari sektor kesehatan. Sedangkan intervensi gizi spesifik adalah intervensi yang dilakukan untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Intervensi spesifik inilah yang membutuhkan komitmen dan dukungan dari sektor non kesehatan. Untuk mendukung keberhasilan pemerintah dalam mengatasi stunting, maka Puskesmas sukorame membuat sebuah inovasi program yang bernama Kepiting Sukorame (Kelompok Peduli Stunting Kecamatan Sukorame). Program Kepiting Sukorame merupakan program terpadu dalam mengatasi stunting yang melibatkan semua lintas sektor dan komitmen dari kecamatan dalam upaya penurunan stunting. 1.2  Rumusan Masalah 1.2.1  Bagaimana rencana program Kepiting Sukorame? 1.2.2  Bagaimana analisis sumber daya pada program Kepiting Sukorame? 1.2.3  Apa saja hambatan dan tantangan dalam pelaksanaan program Kepiting Sukorame?     1.3  Tujuan Untuk mengetahui rencana program, analisis sumber daya, serta hambatan dan tantangan dalam pelaksanaan program Kepiting Sukorame. BAB 2 PEMBAHASAN     2.1  Rencana Program Kepiting Sukorame 2.2.1  Program Kepiting Sukorame Kepiting Sukorame (Kelompok Peduli Stunting Sukorame) merupakan program inovasi yang dibuat oleh Puskesmas Sukorame dalam rangka menurunkan angka stunting di Kecamatan Sukorame. Program inovasi ini didasarkan pada beberapa masalah terkait dengan stunting di Kecamatan Sukorame, diantaranya: 1.      Prevalensi stunting di Kecamatan Sukorame termasuk dalam 10 kecamatan dengan prevalensi tinggi di Kabupaten Lamongan. Pada tahun 2018 berdasarkan data bulan timbang Agustus, prevalensi stunting Kecamatan Sukorame mencapai 25,20% dan termasuk dalam bagian lokus stunting yang ditetapkan oleh Kabupaten Lamongan. 2.      Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh balita akibat kekurangan zat gizi kronis. Penyebab stunting bersifat multifaktoral sehingga dalam penanganan dan penurunan stunting diperlukan komitmen pemerintah dan usaha lintas sektor sehingga dibentuklah kelompok peduli stunting (Kepiting Sukorame) yang mendukung berbagai upaya dalam penurunan stunting. 3.      Dampak stunting sangat besar bersifat permanen dan sulit diperbaiki. Stunting dapat menurunkan kecerdasan dan meningkatkan resiko penyakit tidak menular di masa mendatang sehingga dalam jangka panjang stunting dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia dan merugikan perekonimian negara.   2.2.2  Tujuan Kepiting Sukorame Tujuan dari dibentuknya Kepiting Sukorame adalah: 1.      Meningkatkan komitmen pemerintah kecamatan dan lintas sektor dalam menurunkan angka stunting di Kecamatan Sukorame 2.      Menurunkan prevalensi stunting di Kecamatan Sukorame     2.2.3   Manfaat yang diperoleh 1.        Mencegah terjadinya stunting pada balita. 2.        Menurunkan prevalensi stunting 3.        Menemukan balita stunting sejak dini 2.2.4   Rencana Strategi Kegiatan Program Kepiting Sukorame Dalam upaya menurunkan stunting melalui program Kepiting Sukorame, maka dibuatlah rencana strategi kegiatan Kepiting Sukorame, diantaranya: a.       Pembentukan tim stunting Pembentukan tim stunting ini bertujuan untuk meningkatkan komitmen pemerintah dan seluruh lintas sektor di Kecamatan Sukorame. Tim Stunting ini terdiri dari Jajaran Muspika (Camat, Kapolsek, dan Danramil selaku pembina), Kepala Puskesmas beserta staf Puskesmas, Pemerintah Desa, Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, PPKB, dan KUA kecamatan Sukorame. Pembentukan tim stunting ini didasarkan pada Surat Keputusan Camat Sukorame. b.      Pembentukan Kader Jupanting (Juru Pantau Stunting) Pembentukan Kader Jupanting ini dilakukan di setiap dusun di Wilayah Kerja Puskesmas Sukorame sebagai ujung tombak usaha pencegahan dan penanggulangan stunting. Selanjutnya Kader Jupanting dididik dan dilatih agar dapat menekan angka stunting. Pendidikan dan pelatihan kader Jupanting ini dilakukan melalui kegiatan Refreshing Kader yang berisi tentang cara melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan, pelatihan Emo demo, dan pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). c.       Pendataan balita stunting by name by adress Pendataan balita stunting didasarkan pada data dari puskesmas dan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah balita stunting untuk dilakukan wawancara audit stunting. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahu penyebab stunting dan menentukan intervensi yang tepat untuk penanggulangan stunting. d.      Pemberian PMT Pemulihan untuk balita gizi kurang dan ibu hamil KEK Pemberian makanan tambahan dibagikan untuk memperbaiki status gizi balita dan ibu hamil. Pemberian PMT ini dilakukan selama tiga bulan dan dilakukan monitoring dan evaluasi di setiap bulannya. e.       Penyuluhan stunting dan imunisasi TT pada sasaran Calon Pengantin Penyuluhan ini bertujuan untuk memperhatikan status gizi dan asupan gizi yang seimbang untuk mempersiapkan kehamilan sehingga mendapatkan keturunan yang berkualitas. Selain itu, pasangan catin dianjurkan imunisasi TT dan pemeriksaan laboratorium untuk screnning awal kondisi kesehatan catin . f.        Penyuluhan stunting pada ibu hamil (Kelas Ibu hamil) Sebagai sasaran utama dalam program 1000 hari pertama kehidupan untuk pencegahan stunting, ibu hamil dan ibu baduta menjadi fokus utama dalam keberhasilan intervensi stunting. Intervensi ini meliputi penyuluhan gizi seimbang ibu hamil dan memperbaiki mitos pantangan makan yang beredar di mayarakat, kegiatan ANC terpadu, kegiatan Poyandu rutin, serta penyuluhan ASI dan MP ASI untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif. g.      Penyuluhan Primadona Stunting (Pemberian Makanan Dorong Penurunan Stunting) Penyuluhan Primadona Stunting merupakan penyuluhan dengan sasaran ibu baduta dan ibu balita terkait pemberian makanan MP-ASI yang tepat sehingga dapat menurunkan resiko stunting. Penyuluhan Primadona Stunting ini menggunakan media dan metode yang mudah diingat oleh ibu baduta. Metode penyuluhan dengan menggunakan games Tabel PRIMA. h.      Penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Penerapan STBM ini bertujuan untuk memengubah perilaku higine sanitasi masyarakat sehingga dapat berkontribusi dalam pencegahan penularan penyakit infeksi dan pencegahan stunting. STBM ini terdiri 5 pilar diantaranya: tidak buang air besar sembarangan, cuci tangan dengan sabun dan dengan air yang mengalir, mengelola air minum rumah tangga, mengelola sampah rumah tangga, dan mengolah limbah cair rumah tangga. i.        Imunisasi Dasar Lengkap pada balita Imunisasi Dasar Lengkap pada balita wajib dilakukan untuk mencegah penularan penyakit menular pada balita sehingga balita tumbuh sehat. Imunisasi ini dilakukan di Puskesmas dan dikoordinir oleh seorang Koordinator Imunisasi. 2.2  Analisis Sumber Daya Program Kepiting Sukorame   PARTICIPANT ANALYSIS   NO.   PERAN KELEBIHAN KEKURANGAN 1. Muspika                      (Camat,                      Kapolsek, Danramil) -          Memotivasi dan meningkatkan komitmen semua lintas sektor dalam upaya penurunan angka stunting -          Mendorong semua lintas sektor untuk terlibat dalam semua program -     Mempunyai kekuatan                        dan kedudukan     dalam mendorong               semua lintas      sektor                              di Kecamatan -  Waktu                              yang terbatas karena kesibukan masing- masing. 2. Kepala Puskesmas - Mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk ikut berpartisipasi dalam mendukung program stunting di sektor kesehatan -     Mempunyai kekuatan                           dan kedudukan      dalam mendorong keterlibatan                  semua tenaga                  kesehatan Puskesmas -  Waktu                              yang terbatas karena kesibukan sebagai kepala Puskesmas. 3. Tenaga Kesehatan Puskesmas (bidan desa, tenaga gizi, perawat desa dan Puskesmas) -          Mengkoordinasikan dan melaksanakan program ke desa -          Memberikan pelatihan kepada Kader Jupanting -     Mempunyai pengetahuan                          dan keterampilan dalam menjelaskan -          Waktu                        yang terbatas                     karena kesibukan -          Koordinasi                        yang       -          Memberikan                            penyuluhan                    kepada sasaran -          Memberikan informasi dan melakukan imunisasi -          Melakukan pendataan dan wawancara balita stunting by name by adress permasalahan kesehatan                   terutama stunting kurang antar tenaga kesehatan 4. Ibu balita -          Sasaran utama dalam pencegahan dan penanganan stunting. -          Menyediakan makanan yang seimbang -          Memotivasi anak untuk makan sesuai dengan yang disarankan -          Menerapkan ilmu yang didapat setelah mendapat penyuluhan -          Berperan langsung dalam mencegah stunting -          Mempunyai kendali dalam merawat balita -          Terbuka dalam menerima informasi -     Kurangnya motivasi untuk ikut dalam kegiatan 5. Ibu hamil -          Sasaran utama dalam pencegahan dan penanganan stunting. -          Menerapkan ilmu yang didapat setelah mendapat penyuluhan -          Mengonsumsi makanan yang seimbang untuk ibu hamil -     Terbuka                        dalam menerima informasi -          Terpengaruh mitos pantangan makan di masyarakat -          Kurangnya motivasi untuk ikut dalam kegiatan   6. Pasangan Catin -          Sasaran utama dalam pencegahan dan penanganan stunting. -          Menerapkan ilmu yang didapat setelah mendapat penyuluhan -          Melakukan imunisasi TT ke Puskesmas -     Terbuka                        dalam menerima informasi -          Terpengaruh mitos pantangan makan di masyarakat -          Kurangnya motivasi untuk ikut dalam kegiatan 7. Kader -          Mendorong sasaran untuk melakukan saran dari tenaga kesehatan -          Menjembatani kegiatan dari puskesmas ke sasaran -          Memotivasi sasaran untuk hadir dalam kegiatan -          Menerapkan                           materi                          yang                           telah disampaikan saat pelatihan jupanting -     Motivasi                        tinggi dalam melaksanakan kegiatan -     Beberapa                       kader kurang koorperatif. 8. Lintas Sektor (Kepala Kanwil Dinas Pendidikan) - Bekerja sama dengan Puskesmas untuk memberikan penyuluhan terkait pola asuh yang benar dan penerapan STBM di lingkungan sekolah -     Mempunyai pengetahuan       dan keterampilan dalam menjelaskan materi terkait               pola               asuh yang benar -          Waktu                        yang terbatas karena kesibukan -          Koordinasi yang kurang antar lintas sektor 9. Lintas Sektor (Kepala Kanwil Dinas -     Bekerja sama dengan Puskesmas untuk -     Mempunyai -     Waktu      yang     Pertanian) memberikan penyuluhan terkait pertanian dan penggunaan peptisida yang benar pengetahuan dan keterampilan dalam menjelaskan materi terkait  penggunaan peptisida yang benar terbatas                     karena kesibukan -     Koordinasi                        yang kurang antar lintas sektor 10. Lintas Sektor (PKKB) - Bekerja sama dengan Puskesmas untuk memberikan penyuluhan terkait pentingnya penggunaan KB pasca melahirkan -     Mempunyai pengetahuan       dan keterampilan dalam menjelaskan materi terkait KB -          Waktu                        yang terbatas karena kesibukan -          Koordinasi yang kurang antar lintas sektor 11. Lintas Sektor (KUA) -          Bekerja sama dengan Puskesmas untuk memberikan penyuluhan terkait zat gizi yang harus dipenuhi pada pasangan calon pengantin. -          Berkoordinasi   dengan   Puskesmas terkait data calon pengantin untuk dilakukan penyuluhan dan imunisasi TT -     Mempunyai kewenangan        dan data           terkait           calon pengantin                       di Kecamatan Sukorame - Koordinasi yang kurang karena kesibukan masing- masing                       lintas sektor 12. Tokoh masyarakat dan Pemerintah Desa -     Mendukung     semua                        kegiatan                      yang dilakukan dalam rangka menurunkan angka stunting -     Mempunyai kedudukan                           di masyarakat                            dan -     Waktu      yang terbatas                     karena kesibukan       -     Meluruskan    mitos    yang                       beredar di masyarakat tentang pantangan makan disegani             oleh masyarakat - Koordinasi yang kurang antar lintas sektor 2.3  Hambatan dan Tantangan dalam Pelaksanaan Program Dalam melaksanakan program terdapat beberapa hambatan, diantaranya: -          Terbatasnya komunikasi antar lintas sektor karena kesibukan masing-masing pihak. -          Masih kurang dukungan dan partisipasi antar lintas sektor -          Kurangnya partisipasi masyarakat dalam mengikuti kegiatan yang direncanakan. -          Kurangnya motivasi masyarakat dan semua lintas sektor dalam upaya penurunan angka stunting.   2.4              Indikator Keberhasilan                                         Berdasarkan data bulan timbang selama tiga tahun terakhir terdapat penurunan jumlah stunting di Kecamatan Sukorame. Jumlah stunting pada bulan Agustus 2019 adalah 113 dan pada bulan Agustus 2020 menurun menjaadi 103 balita dan pada bulan timbang Agustus 2021 menurun menjadi 88 balita. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya program inovasi Kepiting Sukorame prevalensi stunting di Kecamatan Sukorame menurun sehingga program Kepiting Sukorame efektif dalam penurunan stunting. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha keberlanjutan program Kepiting Sukorame sehingga dapat mewujudkan tujuan Puskesmas Sukorame dalam memberantas stunting di Kecamatan Sukorame. BAB 3 PENUTUP       3.1         Kesimpulan Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang disebabkan kekurangan gizi kronis terutama pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama dan infeksi penyakit yang terjadi secara berulang. Dampak stunting sangat besar karena dapat menurunkan kuaitas sumber daya manusia dan merugikan perekonomian negara. Penyebab stunting bersifat multifaktoral sehingga dalam penanganan stunting diperlukan komitmen dan dukungan semua lintas sektor dan program. Oleh karena itu, Puskesmas Sukorame membuat sebuah program inovasi yang bernama Kepiting Sukorame (Kelompok Peduli Stunting Sukorame). Kepiting Sukorame dibentuk untuk menurunkan angka stunting di Kecamatan Sukorame dengan melibatkan semua lintas sektor dan program. Namun, dalam pelaksanaan masih menemui beberapa hambatan diantaranya masih terbatasnya peran dan koordinasi lintas sektor dalam keterlibatan program Kepiting Sukorame.   3.2         Saran Diperlukan motivasi dan dorongan semua lintas program dan sektor dalam upaya penurunan stunting, Selian itu, diharapkan pemerintah kecamatan, desa, dan jajaran muspika harus memotivasi masyarakat dan lintas sektor untuk bersama-sama dan berkoordinasi dalam penaganan stunting.  

APA SIH HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN ?

HAK PASIEN :1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan  yang berlaku di Puskesmas sukorame;2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil,  jujur,  dan  tanpa diskriminasi;4. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan   standar profesi dan standar prosedur operasional;5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga  pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang   didapatkan;7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Puskesmas sukorame;8. Meminta  konsultasi   tentang   penyakit   yang dideritanya   kepada   dokter   lain   yang   mempunyai   Surat Izin Praktik  (SIP)  baik  di  dalam  maupun  di  luar  Puskesmas sukorame;9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya;10. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;11.  Memberikan persetujuan atau  menolak  atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;13.  Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya;14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Puskesmas sukorame;15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Puskesmas sukorame terhadap dirinya;16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya;17. Menggugat dan/atau menuntut Puskesmas sukorame apabila Puskesmas sukorame diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan 18. Mengeluhkan pelayanan Puskesmas sukorame yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

(PART 2) APA SIH HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN ?

Kewajiban Pasien1. Mematuhi peraturan yang berlaku di Puskesmas sukorame;2. Menggunakan fasilitas Puskesmas sukorame secara bertanggung jawab;3. Menghormati hak Pasien lain, pengunjung dan hak Tenaga Kesehatan serta petugas lainnya yang bekerja di Puskesmas sukorame ;4. Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;5. Memberikan informasi mengenai kemampuan finansial dan jaminan kesehatan yang dimilikinya;6. Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas sukorame dan disetujui oleh Pasien yang bersangkutan setelah mendapatkan penjelasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;7. Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan dan/atau tidak mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan untuk penyembuhan penyakit atau masalah kesehatannya; dan8. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.9. Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;10. Memberikan informasi mengenai kemampuan finansial dan jaminan kesehatan yang dimilikinya;11. Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas sukorame dan disetujui oleh Pasien yang bersangkutan setelah mendapatkan penjelasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;12. Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan dan/atau tidak mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan untuk penyembuhan penyakit atau masalah kesehatannya; dan

PROGRAM INOVASI "KEPITING SUKORAME" DI PUSKESMAS SUKORAME KABUPATEN LAMONGAN

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang disebabkan kekurangan gizi kronis terutama pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada balita disebebakan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama,infeksi penyakit yang terjadi secara berulang dan pola asuh yang kurang tepat . Dampak stunting dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia dan merugikan perekonomian Negara. Tujuan Kepiting Sukorame :1. Meningkatkan komitmen Pemerintah Kecamatan dan lintas Sektor dalam menurunkan angka stunting di Kecamatan Sukorame2. Menurunkan prevalensi stunting di Kecamatan SukorameManfaat Kepiting Sukorame :1. Mencegah terjaadinya stunting pada balita2. Menurunkan pravelensi stunting3. Menemukan balita stunting sejak diniKegiatan Kepiting Sukorame :1. Pembentukan Tim Stunting2. Pembentukan Kader JUPANTING ( Juru Pantau Stunting)3. Pendataan balita stunting byname by adress4. Pemberian PMT Pemulian untuk balita gizi kurang dan ibu Hamil KEK5. Penyuluhan stunting pada ibu hamil (Kelas Ibu Hamil)6. Penyuluhan stunting dan imunisasi TT pada calon pengantin7. Penyuluhan primadona stunting (Pemberian Makanan Dorongan Penurunan Stunting)8. Penerapan STBM9. Imunisasi dasar lengkap pada BalitaLayanan Informasi Puskesmas Sukorame :Instagram : SukoramepkmYoutube    : puskesmassukorameWhatshapp: 081353371715

APA ITU BIAN ?

Apa itu BIAN ? BIAN singkatan dari Bulan Imunisasi Anak Nasional adalah upaya yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2022 untuk menggenjot cakupan imunisasi rutin anak yang sempat menurun selama pandemi COVID-19.Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat 1,7 juta anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap selama pandemi COVID-19. Terbanyak di Jawa Barat, disusul Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat dan DKI Jakarta.Pemberian imunisasi terbukti melindungi anak-anak dari penyakit berbahaya sehingga anak lebih sehat dan lebih produktif. Tak hanya itu, manfaat dari imunisasi juga jauh lebih besar dibandingkan dampak yang ditimbulkan di masa depan.Dalam pelaksanaan BIAN 2022 ini ada 3 strategi yang diterapkan, yaitu :Menambah 3 jenis imunisasi rutin pada anak yang sebelumnya 11 vaksin menjadi 14 vaksin. Vaksin yang ditambahkan adalah vaksin Rotavirus untuk anti diare dan vaksin PCV untuk anti pneumonia yang ditargetkan untuk anak, serta vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks yang diberikan untuk anak kelas 5 dan 6 SD untuk mencegah potensi kanker serviks saat anak menjadi dewasa.Digitalisasi data imunisasi dengan menggunakan pencatatan imunisasi secara digital yakni Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) yang terintegrasi dengan PeduliLindungi.Imunisasi anak akan dilakukan melalui undangan di aplikasi. Sehingga Pemda maupun tenaga kesehatan sudah mengetahui anak yang belum divaksinasi.BIAN dilaksanakan selama satu bulan, bertahap di seluruh provinsi Indonesia. Tahap pertama dilaksanakan mulai Mei 2022 di seluruh provinsi di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tahap kedua dilaksanakan mulai Agustus 2022 di seluruh provinsi di Jawa dan Bali.Terlaksananya Bulan Imunisasi Anak Nasional meliputi kegiatan imunisasi tambahan Campak Rubela dan imunisasi kejar (OPV, IPV dan DPT-HB-Hib) dengan baik dan dapat mencapai target yang diharapkan.Dengan terselenggaranya kegiatan BIAN diharapkan kekebalan masyarakat terbentuk, sehingga pada akhirnya bisa mencapai eliminasi Campak-Rubela, mempertahankan status Indonesia Bebas Polio, mempertahankan eliminasi tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir serta mengendalikan penyakit difteri dan pertussis.Sumber : sehatnegeriku.kemenkes.go.id

DETEKSI DINI KANKER SERVIKS MELALUI PAPSMEAR GRATIS DI PUSKESMAS SUKORAME

Bahaya Kanker serviks merupakan hal yang menakutkan bagi perempuan. Kanker serviks adalah penyebab keempat kematian terkait kanker di kalangan wanita di seluruh dunia. Banyak wanita yang akhirnya meninggal karena tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kanker serviks, karena pada tahap awal tidak mengalami gejala apa pun. Begitu bergejala, maka kondisinya sudah berat dan sulit untuk di tolong. Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Ketika perubahan prakanker diketahui dan diobati secara dini, maka kanker serviks dapat diatasi sebelum berkembang sepenuhnya. Kanker serviks pada tahap awal tidak menimbulkan gejala yang khas. Kanker serviks dapat dikenali pada tahap pra-kanker dengan melakukan skrining.Nah, cara terbaik untuk mendeteksi kanker serviks secara dini adalah dengan melakukan tes Pap smear. Pap smear adalah tes skrining (screening test) untuk  kanker mulut rahim bisa dilakukan setahun sekali. Sel yang didapatkan dari usapan serviks atau mulut rahim pada pemeriksaan pap smear kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Setiap wanita yang sudah berhubungan seksual wajib melakukan pemeriksaan pap smear.Pada hari Selasa 26 Juli 2022 , telah terselenggara kegiatan papsmear di puskesmas sukorame dengan tema " Deteksi Dini Kanker Leher Rahim, Pemeriksaan Papsmear Gratis" yang diselenggarakan oleh YKI Kabupaten Lamongan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberika edukasi yang tepat sasaran kepada para Perempuan Khusus nya di Wilayah Puskesmas Sukorame.SALAM SEHAT DARI PUSKESMAS SUKORAME :)