DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

Arsip Artikel

Mendhak Sanggring

Ritual Adat Mendhak Sanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten LamonganMendhak Sanggring sendiri pada tahun 2021 telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 

Selengkapnya
Hari Ibu

Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu hebat, tempat keluarga terpusat, perempuan yang selalu menjadi penjaga, ditelapak kakinya terdapat surgaTerima Kasih Ibu

Selengkapnya
Lomba Fashion Kebaya Batik & Tenun Lamongan

Lomba Fashion Kebaya Batik & Tenun Lamongan dalam rangka peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan di Gedung Sport Center Lamongan oleh Dekranasda Lamongan dan DPC IWAPI Lamongan, acara ini diikuti juga oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan

Selengkapnya
Monitoring Destinasi Wisata

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan melaksanakan Monitoring persiapan libur Natal dan Tahun Baru di Objek Wisata dan Penginapan yang ada di Lamongan

Selengkapnya
Perahu Ijon-ijon Lamongan Terima Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Setelah ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, perahu ijon-ijon akhirnya menerima sertifikat penetapannya dari Mendikbudristek. Sertifikat tersebut diserahkan oleh Gubernur Jatim Khofifah Indarparawansa kepada Lamongan.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan Siti Rubikah membenarkan jika beberapa waktu lalu perahu tradisional ijon-ijon dari Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran telah ditetapkan menjadi salah satu Warisan Sejarah tak benda Indonesia. Semalam, kata Rubikah, sertifikat atas penetapan terhadap perahu ijon-ijon sebagai warisan sejarah tak benda telah diterimakan dari Gubernur Jatim Khofifah Indarparawansa ke Lamongan."Benar, tadi malam sertifikat penetapan dari Mendikbud ristek telah diserahkan ibu gubernur pada acara East Java Tourism Award 2022 di Malang," kata Siti Rubikah, Minggu (11/12/2022).Diungkapkan Rubikah, Perahu ijon-ijon oleh masyarakat dikonotasian sebagai perahu wedok (perempuan) dengan ciri inggi yag berbentuk tumpul atau papak dan badan gemuk. Di perahu tradisional dari Desa Kandang Semangkon ini, menurut Rubikah, terdapat simbol topeng, mata, alis, ukei atau sanggul (gelung), mahkota (rambut) dan bunga."Fungsi dari perahu ini untuk menangkap, menyimpan, menampung, mengangkut serta mendinginkan atau mengawetkan ikan," ujarnya.Rubikah mengungkapkan, galangan perahu tradisional di Desa Kandangsemangkon pada umumnya merupakan usaha non formal, tidak berbadan hukum, usaha personal. Keahlian dan ketrampilan membuat perahu diperoleh secara otodidak, pengalaman empirik, alami dan turun temurun."Peralatan yang digunakan sangat sederhana, kurang memperhatikan alat modern," jelasnya.Tahapan produksi perahu tradisional ijon-ijon juga terdapat perbedaan dengan galangan daerah lain, terutama terkait dengan cara pengkontruksian lambung. Di Desa Kandangsemangkon, papar Rubikah, papan lambung dikonstruksikan lebih dahulu sampai ketinggian tertentu, kemudian pemasangan gading-gading."Perahu ijon-ijon tetap diproduksi dan mampu bertahan di Desa Kandangsemangkon hingga saat ini dikarenakan beberapa hal, di antaranya tempat galangan perahu/kapal dan lokasi sangat strategis, terletak di pinggir pesisir dan jalur jalan raya Daendels, tersedia alat komunikasi dan listrik, dan masih ditopang oleh keberadaan sumber daya manusia berupa tukang Pembuat Perahu," imbuhnya.Rubikah menerangkan ditetapkannya perahu ijon-ijon ini sebagai warisan sejarah tak benda Indonesia adalah yang kedua kalinya bagi Lamongan. Beberapa waktu lalu, Lamongan juga menerima sertifikat penetapan warisan sejarah tak benda Indonesia atas tradisi mendak sanggring dari Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang."Yang pertama dulu adalah tradisi mendak sanggring dari Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, kalau yang sekarang ini adalah perahu tradisional ijon-ijon dari Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran," tambahnya.Saat ini, tandas Rubikah, Lamongan juga telah mengajukan beberapa budaya tak benda lainnya dari Lamongan untuk bisa mendapatkan sertifikat warisan tak benda Indonesia dari Menristekdikti. Beberapa yang diajukan tersebut diantaranya adalah Nasi Boran, Jaran Jinggo, Cerita Rakyat Panji Laras Liris dan Upacara Adat Pengantin Bekasri."Semoga warisan budaya tak benda dari Lamongan ini akan bisa mendapatkan sertifikat sebagai Warisan Sejarah tak benda Indonesia dari Lamongan sehingga akan semakin memperkaya khasanah budaya Lamongan dan memperteguh warisan budaya ini," harapnya.Sumber : www.detik.com

Selengkapnya
Perahu Ijon-ijon Lamongan Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Perahu tradisional yang biasa digunakan nelayan Lamongan mencari ikan atau lebih dikenal dengan sebutan Perahu Ijon-ijon, kini telah resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan  Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia.Sertifikat Perahu Ijon-ijon sebagai warisan budaya tak benda diserahkan langsung oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Situ Rubikah, dalam acara East Java Tourism Award 2022, Sabtu (10/12/2022) malam.Rubikah mengatakan, ditetapkannya Perahu Ijon-ijon sebagai warisan budaya tak benda Indonesia menjadi bukti bahwa khazanah budaya Lamongan begitu luar biasa."Pengakuan ini, sebagai wujud upaya Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk tetap melestarikan semua potensi budaya yang ada tanpa terkecuali, sehingga ke depan dapat tetap lestari sebagai karya budaya Lamongan," kata Rubikah, Minggu (11/12/2022).Rubikah menjelaskan bahwa Perahu Ijon-ijon oleh masyarakat dikonotasian sebagai perahu perempuan (wedok) dengan ciri inggitumpul atau papak dan badan gemuk."Perahu ini terdapat simbol topeng, mata, alis, ukei atau sanggul (gelung), mahkota (rambut), dan bunga," tuturnya.Perahu Ijon-ijon ini merupakan perahu nelayan yang memiliki fungsi yang terbilang lengkap, mulai dari menangkap, menyimpan, menampung, mengangkut serta mendinginkan atau mengawetkan ikan hasil tangkapan.Perahu Ijon-ijon dibuat di galangan perahu tradisional di Desa Kandangsemangkon. Pada umumnya galangan perahu Ijon-ijon merupakan usaha non formal milik perseorangan dan tidak berbadan hukum."Keahlian dan ketrampilan diperoleh secara otodidak, pengalaman empiric, alami, dan turun temurun," ujar Rubikah.Selain itu, peralatan yang digunakan juga begitu sederhana, belum menggunakan alat modern. Tahapan produksi terdapat perbedaan dengan galangan daerah lain, terutama terkait dengan cara pengontruksian lambung perahu.Di Desa Kandangsemangkon ini, papan lambung dikonstruksikan lebih dahulu sampai ketinggian tertentu, baru kemudian dilakukan pemasangan gading-gading."Perahu Ijon-ijon tetap diproduksi dan mampu bertahan di Desa Kandangsemangkon hingga saat ini dikarenakan, antara lain tempat galangan perahu dan lokasi sangat strategis, terletak di pesisir dan jalur Jalan Raya Daendels Surabaya-Semarang-Jakarta, tersedia alat komunikasi dan listrik, dan masih ditopang oleh keberadaan sumber daya manusia," kata Rubikah, yang juga berharap warisan budaya di Lamongan tetap lestari dan dapat dikenal oleh masyarakat luas.Sumber : timesindonesia.co.id

Selengkapnya