November

10

 2022

GANEFO: Olimpiade Tandingan Indonesia

 bakesbang
 14073
 10-November-2022

Tanggal 10 November di Indonesia umumnya diperingati sebagai Hari Pahlawan. Namun, tanggal ini juga merupakan peringatan Hari GANEFO. Games of the New Emerging Forces (GANEFO) merupakan salah satu peristiwa di mana Indonesia berani menentang hegemoni Barat melalui olahraga.

Konsepsi Politik Luar Negeri Sukarno

Membahas GANEFO tidak bisa dilepaskan dari sejarah yang melatarbelakanginya. Situasi dunia pada dekade 1960an diramaikan dengan negara-negara Barat melakukan dekolonisasi terhadap wilayah jajahannya. Akibatnya, banyak negara-negara di Asia dan Afrika memperoleh kemerdekaannya.

Sayangnya, keadaan internasional pada masa itu masih berada dalam Perang Dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur. Negara-negara yang baru merdeka tadi berada dalam kontestasi perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, dengan masing-masing memberikan bantuan luar negeri agar negara yang baru merdeka tersebut tidak jatuh dalam pengaruh rivalnya.

Indonesia, sebagai negara yang menjalankan politik bebas aktif, turut terlibat dalam pusaran ini. Sukarno, yang anti terhadap neokolonialisme dan imperialisme, membawa Indonesia mendekat ke Blok Timur. Melalui pidatonya yang disampaikan di Konferensi Negara-Negara Non-Blok bulan September 1961 di Beograd, Sukarno membagi dua kekuatan dunia, yaitu OLDEFO dan NEFO.

OLDEFO (Old Established Forces) merujuk kepada negara-negara yang sudah mapan, yang umumnya kapitalis dan pernah terlibat dalam praktik kolonialisme dan imperialisme. NEFO (New Emerging Forces) di sisi lain adalah negara-negara yang baru merdeka, non-imperialis, dan sosialis.

Sukarno percaya bahwa OLDEFO adalah ancaman bagi keamanan dunia, karena negara-negara OLDEFO ingin menguasai negara-negara NEFO melalui rezim-rezim internasional yang berlaku saat itu. Karena itu, Sukarno memiliki gagasan agar negara-negara NEFO bisa saling bekerja sama dan bersatu, salah satunya dengan menggunakan olahraga (Mustikawati, 2020).

Latar Belakang Penyelenggaraan GANEFO

Olahraga idealnya harus netral dari politik. Namun pada kenyataannya, olahraga sering kali digunakan sebagai alat politik. Sukarno memanfaatkan hal ini karena menurutnya, olahraga dan politik adalah tak terpisahkan. Olahraga dalam hal ini menjadi perlawanan terhadap Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang melarang keikutsertaan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Vietnam Utara dalam Olimpiade. Bahkan, Sukarno terang-terangan menyebut IOC sebagai antek kolonialisme dan imperialisme (Pauker, 1965).

Sebagai balasan, Sukarno tidak mengundang Republik Tiongkok (Taiwan) dan Israel dalam gelaran Asian Games 1962 di Jakarta. Hal ini dikarenakan dengan mengundang dua negara tersebut akan berdampak pada hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah dan RRT, yang memiliki pandangan sama dengan Indonesia dalam menolak imperialisme Barat.

Tindakan Sukarno yang tidak mengundang Taiwan dan Israel membuat murka Avery Brundage, Ketua IOC. Brundage mengancam akan menskorsing Indonesia dari Olimpiade yang akan datang. Ancaman tersebut tidak membuat Sukarno tunduk, tetapi malah meyakinkan Sukarno untuk membawa Indonesia keluar dari keanggotaan IOC.

Untuk menjaga eksistensi Indonesia, Sukarno juga memerintahkan agar diselenggarakan Games of the New Emerging Forces (GANEFO) secepatnya. Menteri Olahraga waktu itu, Maladi, ditunjuk sebagai ketua panitia pelaksanaan GANEFO. Sebelas negara diundang untuk menghadiri Konferensi Persiapan GANEFO yang diadakan di Jakarta pada 27-29 April 1962. Sebelas negara tersebut adalah: Kamboja, RRT, Guinea, Irak, Pakistan, Mali, Vietnam Utara, Republik Arab Bersatu, Uni Soviet, Ceylon, dan Yugoslavia.

Dalam konferensi tersebut disepakati bahwa: (1) GANEFO didasarkan atas semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan Olimpiade; (2) GANEFO akan diselenggarakan di Jakarta pada pertengahan November 1963, dan; (3) GANEFO akan diselenggarakan tiap empat tahun sekali (Mustikawati, 2020).

Sukarno membuat gestur jelas bahwa pelaksanaan GANEFO bertujuan sangat politis dan diarahkan kepada IOC yang dianggap antek Barat. IOC dan beberapa federasi olahraga internasional juga mengancam akan mengeluarkan keanggotaan negara yang terlibat dalam GANEFO. Meski demikian, ancaman tersebut tidak menyurutkan negara-negara untuk ikut serta dalam GANEFO.

Pelaksanaan GANEFO

GANEFO dilaksanakan pada tanggal 10 hingga 22 November 1963 yang diikuti oleh 51 negara peserta dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Prosesi pembukaan dilakukan oleh Sukarno di depan 100.000 penonton yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno.

51 negara peserta GANEFO adalah: Afghanistan, Albania, Aljazair, Argentina, Belgia, Bolivia, Brasil, Bulgaria, Burma, Kamboja, Cile, Ceylon, Kuba, Cekoslowakia, Korea Utara, Republik Dominika, Finlandia, Prancis, Jerman Timur, Guinea, Hungaria, Indonesia, Irak, Italia, Jepang, Laos, Lebanon, Meksiko, Mongolia, Maroko, Belanda, Nigeria, Pakistan, Palestina, RRT, Filipina, Polandia, Mali, Rumania, Arab Saudi, Senegal, Somalia, Suriah, Thailand, Tunisia, Uni Soviet, Vietnam Utara, Republik Arab Bersatu, Uruguay, Yugoslavia

Untuk perolehan medali, Indonesia menempati posisi empat di bawah RRT, Uni Soviet, dan Republik Arab Bersatu, dengan total 81 medali yang terdiri dari 21 emas, 25 perak, dan 35 perunggu (Pauker, 1965).

Arti Penting GANEFO bagi Indonesia dan Sukarno

Bagi Sukarno, kesuksesan GANEFO turut menyukseskan tujuannya dalam membangun bangsa yang revolusioner melalui olahraga dan diplomasi. Skorsing IOC berhasil diubah menjadi sebuah kebanggaan. Terlebih, ikutnya negara-negara yang termasuk dalam OLDEFO, seperti Prancis, untuk berpartisipasi dalam GANEFO merupakan tamparan telak kepada IOC.

Salah satu poin penting penyelenggaraan GANEFO adalah untuk meningkatkan hubungan persahabatan sesama negara peserta. Atlet-atlet Indonesia diundang untuk makan bersama dengan Presiden Sukarno, yang meminta kepada para atlet untuk tidak hanya menunjukkan kemampuan mereka, tetapi juga menjalin pertemanan dengan atlet negara lain.

Karena itu, atas desakan negara-negara Timur Tengah dan Jepang, IOC kemudian mencabut skorsing Indonesia sehingga Indonesia bisa berpartisipasi dalam Olimpiade Tokyo 1964. Namun, Indonesia memilih untuk mengundurkan diri setelah permintaan untuk melibatkan atlet yang terlibat GANEFO ditolak oleh IOC.

Suksesnya penyelenggaraan GANEFO merupakan bentuk keseriusan Sukarno untuk menjadikan Indonesia sebagai pelopor negara dunia ketiga. Selain itu, kesuksesan GANEFO juga menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara yang belum lama berdiri pun bisa menggebrak kekuatan yang lebih mapan dan kuat. Meski dikritik tidak kompetitif, namun Sukarno tidak ambil pusing karena telah menunjukkan sikap politisnya bahwa Indonesia akan selalu berpegang pada semangat anti-imperialisme dan kolonialisme.

 

Referensi:

Mustikawati, R., 2020. The Games of the New Emerging Forces (GANEFO) 1963: The Olympics of the Left. International Journal of Culture and History, 6(2). Singapura: Macrothink Institute.

Pauker, E.T., 1965. GANEFO I: Sports and Politics in Djakarta. Asian Survey, 5(4). Berkeley: University of California Press.


Mohon kesediaannya meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner berikut agar kualitas konten materi menjadi lebih baik. Terima kasih.

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN
Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik

Kontak

Jl. Lamongrejo No.92, Lamongan, Sidokumpul, Kec. Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62214


bakesbangpol@lamongankab.go.id
(0322)321706

Pengunjung

Hari Ini 0
Kemarin 0
Minggu Ini 0
Minggu Lalu 0
Bulan Ini 0
Bulan Lalu 0
Tahun Ini 0
Semua 0
#LamonganMegilan
© Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik Kabupaten Lamongan 2023